Belajar dengan Ibrahim, Relaksasi di Hari Raya

Bulan ke 12 (dua belas) dalam kalender Islam, merupakan bulan penting yang sarat dengan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan. Sebut saja hari raya Idul Adha, ataupun juga dikenal hari raya haji. Islam memiliki 2 (dua) hari raya besar, pertama jatuh pada bulan syawal dan kedua pada bulan dzulhijjah. Lazim diketahui, jika Idul Fitri berorientasi pada sikap kemanusiaan yakni untuk saling memaafkan. Maka Idul Adha, berperan sebagai bentuk manifestasi keimanan seseorang kepada tuhan.

Umat Islam yakin bahwa Idul Adha berangkat dari peristiwa sejarah yang agung dan kental dengan kisah heroik Ibrahim. Hal itu tidak ada salahnya. Memang idul adha padat akan sejarah. Artinya berbicara tentang idul adha, berarti bicara tentang sejarah. Idul Adha memiliki dua dimensi besar yakni haji dan kurban, kedua hal ini mempunyai riwayat yang sama, yakni peristiwa besar yang diperankan Ibrahim beserta putranya.

Kajian geografis menunjukan bahwa pusat peribadatan umat Islam (Kabah), dahulu adalah tanah tandus dan gersang, hamparan kosong dengan pasir bergumul dibawah terik matahari. Kawasan ini kini menjadi peradaban baru umat Islam, yang diprakarsai oleh keluarga Ibrahim. Segala momentum pada masa tersebut, kini diabadikan dalam rukun Islam yang ke 5 (lima) haji.

Ibrahim telah melintasi bergam peristiwa heroik. Nabi ke 6 (enam) yang mendapat predikat Khalilulah ini, lahir di lingkungan masyarakat yang begitu fanatik terhadap berhala. Ibrahim sadar bahwa konstruk sosial dan sistem kepercayaan yang dianut masyarakat selama ini terdapat kesalahan. Dr. Jerald F. Dirk mencoba mendefinsikan bahwa sistem kepercayaan penduduk Ur, semasa itu menggunakan sistem tri tunggal kekuasaan. Semangat muda Ibrahim begitu revolusioner. Mencoba menggiring masyarakat kembali kejalan yang benar, dengan menunjukan bukti-bukti kongkrit, dan argumentasi yang mendalam. Gaya dakwah dengan dialog terbuka serta perenungan atas gejala alam yang terjadi, kerap menggoyahkan kepercayaan masyarakat. Metode tersebut yang kini juga ikut dibumikan oleh Said Nursi tokoh pembaharu Islam di Turki, yakni mengenal tuhan dengan pengamatan alam semesta.

Peristiwa besar berikutnya, yakni kurban. Saat Ibrahim mendapat perintah untuk mengorbankan Ismail putranya. Hal itu bermula saat Ibrahim mendapat mimpi yang serupa selama 3 (tiga) hari. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Fakhr ar-Razi dalam tafsir Mafatih al-Ghayb. Bahwasannya mimpi seorang nabi dapat dibenarkan, karena tidak berangkat dari setan ataupun wahm. Peristiwa itu mampir saat Ibrahim baru saja melepas rindu, berjumpa Ismail. Hakikatnya seorang ayah dan anak.

Puncak peristiwa besar berikutnya pada tanggal 10 Dzulhijjah. Saat Ibrahim mengajarkan untuk melepaskan segala kepentingan diri, berani melakukan pengorbanan dan berserah diri pada kehendak tuhan. Ketika Ibrahim siap menggorok putranya, dan keduanya telah bersedia atas konsekuensi yang ada. Namun hal itu tergantikan berkat ketulusan Ibrahim. Makarim Syirazi dalam tafsirnya menjelaskan. Maksud dan tujuan Ibrahim menyembelih putranya, ialah pengosongan hati Ibrahim dari cinta selain tuhan, bukan secara fisik menyembelih Ibrahim. Perintah tersebut, sebagai bentuk kepatuhan seorang makhluk terhadap tuhan.

Keteladanan Ibrahim inilah, yang kerap dilupakan. Bersedia meninggalkan bentuk kenyamanan dan berani meninggalkan apa yang dicintai. Tidak lain untuk kembali kepada tuhan. Situasi yang sulit digambarkan. Hakikatnya seorang ayah, yang begitu cinta kepada putranya. Sebagaimana Nuh yang meratapi Kan’an, ketika membangkang ditelan bah. Ataupun Yakub yang menangis, saat mendengar hilangannya Yusuf. Ada banyak nilai yang diajarkan dari sudut kemanusiaan. Bukan hanya dari nilai kenabian. Mereka sama-sama dari golongan manusia, yang tentu juga memiliki rasa iba.

Dari Ibrahim kita belajar, meninggalkan kemapan yang bersifat fana, tidak fanatik terhadap ketercapaian yang didapat. Rela melepaskan kemegahan dunia, dan berjalan tunduk di atas perintah-Nya. Bukan hanya sebatas mencari kehidupan, dan mencederai makna perjuangan yang sesungguhnya. Ibrahim mencitrakan esensi keberanian bertindak, melewati batas kenyamanan yang ada. Nilai-nilai seperti inilah, yang harus tetap mengalir di setiap darah kurban, yang selanjutnya tertanam pada setiap generasi. Sehingga kurban bukan menjadi momentum ceremonial belaka. Tetapi juga berhasil mencerminkan esensi dari nilai perjuangan dan pengorbanan.

M. Lubab Rofiul Ula

KETUA DEMA FITK

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler